Salah satu bentuk partisipasi politik sebagai perwujudan dari kedaulatan rakyat untuk menentukan kebijakan pemerintah adalah memberikan suara dalam Pemilu. Pada saat pemilu, rakyat tentulah menjadi pihak yang paling menentukan bagi proses politik karena partisipasi rakyat menentukan arah kebijakan bangsa ini lima tahun ke depan.

Pemilih di Indonesia dapat kita bagi menjadi tiga kategori. Pertama, pemilih yang rasional, yakni pemilih yang benar-benar memilih partai berdasarkan penilaian dan analisis mendalam. Kedua, pemilih kritis emosional, yakni pemilih yang masih idealis dan tidak kenal kompromi. Ketiga, pemilih pemula, yakni pemilih yang baru pertama kali memilih karena usia mereka baru memasuki usia pemilih.

Kaum muda (pemilih pemula) menurut UU Pemilu adalah mereka yang telah berusia 17-21 tahun, yang telah memiliki hak suara dalam Pemilu (dan Pilkada). Pemilih pemula terdiri atas pelajar, mahasiswa atau pemilih dengan rentang usia 17-21 tahun menjadi segmen yang memang unik, sering kali memunculkan kejutan dan tentu menjanjikan secara kuantitas. Disebut unik, sebab perilaku pemilih pemula dengan antusiasme tinggi, relatif lebih rasional, haus akan perubahan dan tipis akan kadar polusi pragmatisme.

Dari kecenderungan memilih tersebut, tidaklah mengherankan jika potensi munculnya golongan putih (Golput) dari pemilih pemula sangat tinggi.

Menilik dari sisi kuantitas, suara pemilih pemula tentu cukup menjanjikan. Dalam Pemilu 2014 nanti diperkirakan jumlahnya mencapai 30 persen-40 persen total jumlah pemilih. Hal ini tentu menjadi incaran partai politik. Oleh karena itu, pemilih pemula terutama kalangan pelajar dan remaja, perlu diberikan pendidikan politik menjelang Pemilu. Ini diperlukan agar mereka tak menjadi obyek pembodohan.

 

Pencerdasan Pemilih Pemula

Pemilih pemula dalam ritual demokrasi (Pemilu legislatif, Pilpres dan Pilkada) selama ini agaknya sengaja dijadikan obyek politik sebagai bagian dari massa untuk kepentingan elite sesaat. Selepas momen politik berlangsung, praktis pemilih pemula ditinggal begitu saja bak pepatah ”habis manis sepah dibuang”.

Hal itu tampak jelas dari momentum kampanye selama ini yang justru menampakkan pembodohan pemilih. Sekadar melibatkan pemilih pemula untuk meramaikan kampanye melalui karnaval kendaraan bermotor, joget bersama artis, bagi-bagi kaus, tanpa dibarengi dengan proses-proses pencerdasan melalui dialog, pemahaman visi-misi kandidat misalnya. Ruang dialog yang mampu membentuk dan mengasah rasionalitas pemilih pemula belum mampu terbangun. Kalaupun ada proses tersebut, selama ini tidak lebih dari upaya pemilih pemula sendiri yang berasal dari komunitas kampus.

Hal yang kiranya belum terjadi pada pemilih pemula dari pelajar (SMA), maupun dari pemilih pemula di luar pelajar dan mahasiswa yakni mereka dengan usia 17-21 tahun yang sudah tidak lagi mengenyang bangku pendidikan. Mereka semakin menjadi sapi perahan elite politik tanpa adanya upaya proses pencerdasan yang semestinya sedini mungkin didapat.

Akibat yang kemudian muncul adalah tidak adanya perbedaan distingtif antara pemilih pemula dengan pemilih uzur, yang mana konsideran dalam mengambil keputusan politik sekadar berdasarkan popularitas figur, nderek tiyang sepuh atau lebih sial lagi menjadi bagian dari pemilih pragmatis ekonomis yang mendasarkan pada nilai uang yang akan diterima. Dalam seremoni demokrasi selama ini, sikap kritis yang semestinya muncul dari pemilih pemula menjadi kurang tampak. Eksploitasi terhadap pemilih pemula oleh elite kian tak terhindarkan jika melihat munculnya organisasi sayap partai yang didesain guna menggalang basis kekuatan pada pemilih pemula. Dalam strategi politik memang halal hukumnya, bahkan satu keharusan (wajib) ketika partai mencoba membidik segmen pemilih pemula melalui organisasi sayap khusus untuk kaum muda.

Namun demikian, hakikat ideal dari sayap partai sejatinya berfungsi sebagai instrumen sosialisasi politik termasuk di dalamnya adalah pendidikan politik kepada masyarakat terlebih pemilih pemula. Pemilih pemula tergolong massa mengambang (floating mass) yang sangat rawan untuk digarap dan didekati dengan pendekatan materi.

Kini, sudah saatnya partai politik secara dini melakukan pendidikan politik untuk mempertajam daya kritis pemilih pemula sehingga mereka memiliki kesadaran dan partisipasi politik secara proporsional. Dengan demikian, optimisme bangsa untuk menghindarkan pemilih menjatuhkan pilihannya karena pertimbangan uang atau materi, bisa terlaksana.

Di sinilah pentingnya pendidikan politik melalui program-program yang berakar dari kebutuhan dasar pemilih pemula berupa pembentukan pola pikir politik dengan basis rasionalitas untuk mempertimbangkan segala keputusan politik atas dasar kemampuan, visi-misi dan track record dari partai-partai dan para kandidat presiden sehingga ke depan pemilih pemula dapat memberikan pilihan cerdas dalam pilihan politik.

 

Signifikansi Pendidikan Politik

PENDIDIKAN politik melalui pesta demokrasi Pemilu legislatif di DIY  merupakan momen penting bagi masyarakat DIY. Ini untuk menentukan masa depannya sekaligus mewujudkan demokratisasi lokal, tidak terkecuali pelajar dan mahasiswa yang sudah cukup umur dan memiliki hak suara dipastikan akan menjadi bagian dalam perhelatan pesta rakyat  yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini.


KPU dalam hal ini seharusnya melakukan pendidikan politik secara terus menerus yang bertujuan mengajak seluruh warga DIY  yang sudah memiliki hak pilih, untuk memastikan apakah sudah tercatat dalam daftar pemilih tetap ataukah tidak. Sebab jika sudah tercatat sebagai pemilih, maka warga bisa menentukan pilihannya.

Menggunakan hak pilih atau tidak golput, merupakan pilihan yang paling bijaksana. Ini karena setiap warga negara yang sudah memiliki hak pilih, punya tanggungjawab memilih pemimpinnya.

Bagi warga yang sudah terbiasa ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi, tentunya menggunakan hak suaranya bukan lah sesuatu yang asing,  lantas bagaimana bagi pelajar dan mahasiswa yang dikategorikan sebagai pemilih pemula,  kemudian apakah penting bagi kita bahwa mahasiswa atau pelajar untuk menggunakan hak suaranya dalam pilkada ini?

Arti pentingnya ikut berpartisipasi terhadap pemilihan legislatif atau kepala daerah bagi kalangan intelektual terpelajar adalah menjadi sejarah bagi mereka dan juga akan menjadi sejarah perubahan bagi orang yang dipilih. Untuk mendapatkan hak suara mereka harus menunggu hingga usia 17 tahun dan ini sejarah bagi mereka memilih secara langsung siapa pemimpinnya untuk pertama kali, karena  sejarah itu tidak akan terulang, maka haruslah dimanfaatkan.

Jumlah pemilih pemula dan mahasiswa sebagai pemilih pemula berkiras lebih dari  15 persen dari total pemilih, jadi kita berharap dengan keikut sertaan pelajar dan mahasiswa ini jumlah partisipasi pemilih di DIY akan lebih baik. Apalagi peraturan KPU pada pemilu 2014 ini telah membuka pintu selebar-lebarnya bagi mahasiswa dan pelajar bukan berKTP lokal dapat melakukan dan menggunakan hak pilihnya di mana mereka berada.

Signifikansi keikutsertaan para pemilih pemula ini adalah  ketika  mereka sudah mengetahui sistem demokrasi yang baik, maka pada masa-masa yang akan datang merekalah yang menjadi ujung-ujung tombak pemilih yang cerdas karena mereka sebagai kalangan terdidik, kalangan ilmuwan, kalangan intelektual muda  seharusnya bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat bahwa mereka peduli terhadap demokrasi yang ada. Ini artinya bahwa siapa yang akan mereka pilih,dan yang menang itu adalah orang terbaik yang akan memajukan daerah dan negaranya. Jadi mahasiswa itu jangan pinter beretorika, jago debat dalam diskusi tetapi ketika masuk kepada aplikasi demokrasi  untuk membangun daerah, membangun bangsa ini secara demokrasi mereka tidak ikut.

Pada akhirnya signifikansi pendidikan politik bagi pelajar dan mahasiswa sebagai golongan intelektual muda adalah menjadikan mereka sadar akan arti pentingnya sebuah pemilihan umum. Mereka sebagai golongan yang berwawasan ilmu pengetahuan yang bagus, seharusnya mau menentukan pilihan dan bahkan sudah memiliki pilihan calon-calon yang menurutnya bagus, calon-calon yang menurut nya baik dan ikut andil dalam mensuarakan kepada masyarakat, Artinya keikutsertaan mereka dalam pemilihan ini akan mempengaruhi pilihan masyarakat yang ada disekitarnya, janganlah beranggapan pilihan mereka itu tidak akan berarti apa-apa , tapi keterlibatan mereka sangat memberikan arti cukup besar terhadap pergerakan pemilihan pada masyarakat.

(0 komentar)Komentar

Halaman :

Kirim Komentar

Login atau daftar untuk memberikan komentar...